"Songket Pandai Sikek: Kain Elok Penuh Makna dari Ranah Minang"
Songket Pandai Sikek adalah kain tenun songket khas dari Nagari Pandai Sikek, Sumatera Barat, yang berkembang sejak abad ke-19, tepatnya sekitar tahun 1850. Asalnya menenun songket sudah menjadi bagian penting dari budaya Minangkabau dan diwariskan turun-temurun sebagai bagian dari warisan leluhur.
Sejarah produksi tenun mulai berkembang di Pandai Sikek sekira tahun 1850 atau bahkan lebih awal. Saat itu para penenun beralih dari memproduksi kain untuk pakaian yang digunakan sehari-hari ke kain mahal yang dibuat dari sutera dan benang emas. Diketahui usaha ini dikelola oleh para saudagar dengan mempekerjakan gadis-gadis setempat sebagai penenun. Karena itulah, Pandai Sikek pun tumbuh sebagai pusat kerajinan tenun songket di Minangkabau.
Dahulu, songket hanya dipakai oleh orang-orang dari kerajaan seperti ratu dan permaisuri, namun sekarang songket digunakan pada acara adat. Songket laki-laki dan songket perempuan perbedaannya terletak pada ukurannya. Namun, pada zaman dulu, setiap masing-masing rumah memiliki motif-motif yang berbeda untuk mencirikhaskan keluarga tersebut.
Menurut informan yang bernama Novri Videl Mora yang bergelar Katik Bandaro, jika seseorang ingin belajar bertenun harus ada saripati, yaitu beras, daun saripati, rokok, uang, dan daun sirih pinang, kebiasaan ini dipercaya karena ada bantuan khusus. Tidak hanya itu, bertenun pun ada sumpah nya yang mana belajar bertenun hanya dilakukan satu garis keturunan perempuan, jika dilanggar hidupnya akan sengsara. Seperti kejadian pada tahun 1990-an terjadi tragedi pembakaran rumah di jorong baruah, dimana keluarga tersebut melanggar sumpah tenun dan hidupnya sengsara.
Secara tradisional, songket dibuat dengan benang emas dan perak, yang memberikan kemewahan dan nilai prestise tinggi kepada pemakai kain ini. Motif-motif pada Songket Pandai Sikek sangat khas dan terbagi dalam dua pola utama yaitu cukie (bagian tepi dan pembatas motif) dan sungayang (menutupi seluruh kain). Beberapa motif wajib yang selalu ada adalah motif pohon pinang, motif biji bayam, dan motif jalinan lidi. Warna dasar kain biasanya hitam, merah, dan kuning yang masing-masing melambangkan tiga unsur masyarakat Minangkabau: kaum adat (hitam), cendekiawan (merah), dan ulama (kuning).
Motif-motif songket pandai sikek memiliki makna filosofis yang terkait dengan kehidupan sosial masyarakat. Motif-motif tersebut diambil dari nama hewan, tumbuhan, dan benda-benda lainnya, seperti motif Gunuang-gunuang, melambangkan keindahan. Motif Sirangkak Ketek, melambangkan sifat hati-hati dan waspada. Motif Salapah gadang, melambangkan sifat kebendaharaan. Motif Barantai putiah dan Barantai merah, melambangkan interaksi. Motif Tampuak manggih, melambangkan sifat yang baik. Motif Balah kacang, melambangkan keadilan. Motif Baserak, melambangkan kekacauan. Motif Bayam, melambangkan adaptasi. Motif Batang pinang, melambangkan sifat jujur. Motif Saluak laka, melambangkan pentingnya menjaga silaturahmi.
Proses pembuatan songket ini sangat rumit dan memerlukan ketelitian tinggi. Tenun songket dihasilkan melalui dua tahap utama: menenun kain dasar yang polos dan menambahkan pola motif dengan memasukkan benang emas atau perak di antara benang lungsi menggunakan alat tradisional seperti panta dan karok. Pengerjaan yang teliti ini memungkinkan kesempurnaan motif dan kualitas kain yang sangat tinggi.
Songket Pandai Sikek bukan hanya berfungsi sebagai pakaian pengantin atau dalam upacara adat Minangkabau, tapi juga sebagai simbol kemewahan dan status sosial. Kain ini sering diberikan sebagai cendera mata berharga dan diakui sebagai salah satu kain songket terbaik di Indonesia, bahkan pernah diabadikan dalam uang pecahan Rp5.000 sebagai simbol kebanggaan budaya Sumatera Barat.
Yalfiza
26 Agustus 2025 12:13:58
Kok pertanian tidak ada yaa??? kita nagari yang subur akan pertanian, kok tidak di input...