Lahirnya Sang Pelopor: Konteks Sejarah dan Budaya di Balik Kemunculan Arby Samah
Arby Samah, kelahiran Pandai Sikek, Kabupaten Tanah Datar, 1 April 1930, tepatnya di jorong Tanjuang, merupakan seorang seniman yang berdarah Minang, beliau seorang seniman pemahat patung dan kayu yang memiliki aliran abstrak dan memiliki catatan sejarah Indonesia sebagai maestro pematung abstrak dari Indonesia. Beliau memiliki nama lengkapnya yaitu H Arby Samah Datuak Majo Indo. Gelar tersebut diberikan kepada laki-laki yang telah menikah yang dimana gelar tersebut ciri khas Masyarakat Minangkabau. Maka dari itu Beliau mendapatkan nama gelar sebagai Datuak Majo Indo. Beliau merupakan anak dari Abu Samah dan Siti Jaliah.

Selepas menyelesaikan studinya pada tahun 1961, Arby Samah mulai menemukan jalannya. Ia merasa bahwa melukis objek secara harfiah tidak lagi cukup untuk mewakili perasaan, emosi, dan pergolakan batinnya. Ia pun mulai melepaskan diri dari bentuk-bentuk konkret dan menyelami dunia abstraksi.
Inilah titik balik dalam karirnya. Arby Samah menjadi salah satu pelopor aliran Ekspresionisme Abstrak di Indonesia. Gayanya sangat khas dan bertenaga. Ia tidak lagi mengandalkan kuas semata. Ciri khasnya yang paling menonjol adalah "teknik lempeng" atau impasto tebal, di mana ia menggunakan pisau palet, kape, atau bahkan bilah kayu untuk mengoleskan cat minyak dalam lapisan tebal di atas kanvas. Teknik ini menghasilkan tekstur yang kasar, bergelombang, dan penuh dimensi, seolah-olah energi sang seniman membeku di permukaan lukisan.
Menurut beliau, kanvas adalah arena pergulatan emosi. Warna-warna yang ia pilih seringkali kuat dan kontras, diaplikasikan dengan spontanitas dan gerak tubuh yang energik. Lukisannya adalah rekaman jujur dari gejolak jiwanya saat itu.
Meskipun karyanya abstrak, inspirasi Arby Samah tidak pernah meninggalkan akarnya. Ia banyak mengambil ilmu dari alam dan budaya Minangkabau. Judul-judul karyanya menjadi petunjuk dari mana sumber idenya berasal:
- "Dinamika Kerbau": Ia tidak melukis bentuk kerbau, tetapi menangkap semangat, kekuatan, dan energi liarnya dalam goresan-goresan yang dinamis.
- "Merapi dan Singgalang": Lukisan ini bukan potret dua gunung ikonik di Sumatera Barat, melainkan visualisasi dari keagungan, misteri, dan kekuatan alam yang ia rasakan saat menatapnya.
- "Perahu-Perahu" atau "Keluarga Nelayan": Ia merekam perjuangan, ombak, dan kehidupan pesisir dalam komposisi warna dan tekstur yang penuh gerak.



Karya-karyanya adalah bukti bahwa seni abstrak bukanlah seni tanpa makna. Itu adalah cara lain untuk melihat dan merasakan dunia, sebuah interpretasi jiwa atas realitas.
Setelah puas berkelana dan berkarya, Arby Samah memilih untuk kembali ke kampung halamannya. Ia mendedikasikan sisa hidupnya sebagai pengajar di Jurusan Seni Rupa IKIP Padang (kini Universitas Negeri Padang). Di sinilah perannya sebagai seorang perintis semakin kokoh. Ia tidak hanya memperkenalkan, tetapi juga menularkan semangat dan pemahaman tentang seni abstrak kepada generasi muda di Sumatera Barat.
Arby Samah menjadi figur sentral dan panutan bagi perkembangan seni rupa modern di Ranah Minang. Ia membuka cakrawala baru di tengah dominasi seni tradisional dan dekoratif.
Sepanjang karier dan perjalanan sebagai seniman patung, Arby Samah telah menciptakan 250 karya patung dan lukisan. Salah satu karyanya yang sangat terkenal dalam seni perpatungan adalah patung abstrak berjudul “Sujud” yang terbuat dari kayu pada tahun 1960. Dua tahun sebelum pensiun, ia juga membuat patung berjudul “Ibu” yang terbuat dari kayu pada tahun 1991.
Selain patung, Arby Samah juga banyak menciptakan karya monumen sejarah dalam bentuk realis, seperti “Monumen Bagindo Aziz Chan” di Taman Melati Kota Padang pada tahun 1975. Pada tahun yang sama, ia juga membuat monumen “Pejuang Revolusi” di Sungai Buluh, Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman.
Patung-patung karya Arby Samah sudah dipamerkan dalam beberapa acara, seperti Pameran di Balai Budaya Jakarta pada tahun 1975, Pameran Seni Patung Indonesia di Balai Seni Rupa Jakarta pada tahun 1981, Pameran Kompetitif Trinnale di TIM Jakarta pada tahun 1986, serta Pameran di Oets Fine Arts Gallery pada tahun 1990.
Saat diwawancarai oleh Yurnaldi dari Kompas pada tahun 2001, Arby Samah mengatakan bahwa alasan dia memilih jalur dengan gaya abstrak adalah karena dia percaya bahwa seorang seniman harus memiliki imajinasi dan daya visualisasi yang kuat. Kemudian digabungkan dengan pikiran dan hati nurani untuk menghasilkan karya yang sarat makna dalam berbagai dimensi.
Arby Samah diberi penghargaan sebagai Maestro Patung Abstrak Indonesia pada tahun 2005 oleh Dewan Kesenian Sumatera Barat. Pada 1 Oktober 2022, bertepatan dengan Hari Jadi ke-77 Provinsi Sumatera Barat, pemerintah Provinsi Sumatera Barat memberikan Anugerah Kebudayaan kepada Arby Samah atas kontribusinya terhadap kemajuan seni dan kebudayaan. Dalam usia 84 tahun, Arby Samah meninggal dunia pada Rabu 6 September 2017 di Kota Padang. Beliau dikebumikan di pandam pekuburan masyarakat Tanah Datar di Kelurahan Banuaran Nan XX (Banuaran), Kecamatan Lubuk Begalung, Kota Padang.
Yalfiza
26 Agustus 2025 12:13:58
Kok pertanian tidak ada yaa??? kita nagari yang subur akan pertanian, kok tidak di input...