"Dari Ranah Pandai Sikek: Gema Tanah Minang dalam Sajak Taufik"
Taufiq Ismail ialah salah satu pilar utama dalam panggung sastra modern Indonesia. Dikenal dengan julukan "Penyair Angkatan '66", beliau bukan hanya seorang penulis puisi/penyair, tetapi juga seorang saksi sejarah yang merekam gejolak zaman dan suara nurani bangsanya melalui kata-kata yang tajam, lugas, dan penuh makna. Karyanya melintasi batas-batas sastra, menjadi bagian tak terpisahkan dari perjuangan sosial-politik di Indonesia.
Taufiq Ismail lahir di nagari Pandai Sikek tepatnya di Jorong Baruah, Kabupaten X Koto, Sumatra Barat pada 25 Juni 1935. Dia dibesarkan dalam keluarga guru dan wartawan. Sejak kecil, lingkungan yang dekat dengan dunia literasi ini menumbuhkan kecintaan dia pada buku dan tulisan. Ayah mereka, A. Gaffar Ismail adalah seorang guru terkenal dan pendiri perpustakaan di Pekalongan.

Dalam perjalan karirnya. Pada tahun 1961–1964, Taufiq Ismail menjadi asisten dosen di kelas Manajemen Peternakan saat dia kuliah. Menandatangani Manifesto Kebudayaan membuatnya dipecat. Taufiq terus berkiprah dalam berbagai organisasi kemasyarakatan karena pengalaman organisasinya. Ia juga berpartisipasi dalam pembentukan Dewan Kesenian Jakarta dan menjabat sebagai sekretaris dewan pada akhir tahun 1960 dan awal 1970-an. Meskipun dia kuliah kedokteran hewan, Taufiq Ismail lebih banyak bekerja di media.
Sebagai penyair, Taufik telah menghadiri berbagai pembacaan puisi di dalam dan di luar negeri. Untuk kerja kerasnya dalam dunia sastra, dia telah menerima banyak penghargaan, baik di dalam maupun di luar negeri. Tak hanya merambah dunia sastra, Taufik Ismail juga masuk ke dunia musik. Taufik juga pandai menulis lagu. Tahun 1974, dia bekerja sama dengan Bimbo, Chrisye, Ian Antono, dan Ucok Harahap. Taufik Ismail telah menulis lirik beberapa lagu.
Selama menjalankan karyanya, Taufik Ismail telah banyak menulis beberapa puisi yang terkenal yaitu
- Tirani (1966): Kumpulan puisi ini, bersama dengan Benteng, adalah tonggak utama karya Angkatan '66. Isinya merupakan rekaman suasana perlawanan mahasiswa dan masyarakat terhadap rezim Orde Lama dan PKI.
- Benteng (1966): Merupakan kelanjutan dari semangat yang ada dalam Tirani.
- Puisi-puisi Sepi (1971): Menunjukkan sisi lain Taufiq Ismail yang lebih kontemplatif dan personal.
- Buku Tamu Musim Perjuangan (1972): Kembali merefleksikan semangat perjuangan dan aktivisme.
Selain itu beberapa karya syair tunggal Taufik Ismail, seperti
- Karangan Bunga: Puisi yang sangat singkat namun kuat, menggambarkan duka atas gugurnya seorang mahasiswa demonstran (Arief Rachman Hakim). "Tiga anak kecil / Dalam langkah malu-malu / Datang ke Salemba / Sore itu."
- Sebuah Jaket Berlumur Darah: Puisi yang juga menjadi simbol perjuangan mahasiswa pada tahun 1966.
- Membaca Tanda-Tanda: Puisi tentang bagaimana seharusnya kita peka terhadap tanda-tanda alam dan zaman sebagai bentuk peringatan dari Tuhan.
Taufiq Ismail juga seorang penulis lirik lagu yang handal. Ia berkolaborasi dengan banyak musisi ternama dan melahirkan lagu-lagu abadi, diantaranya
- Panggung Sandiwara (Dinyanyikan oleh God Bless dengan vokalis Ahmad Albar). Salah satu lagu rock paling ikonik di Indonesia.
- Sajadah Panjang (Dinyanyikan oleh Himpunan Musik Bimbo). Lagu religi yang sangat populer dan terus didengarkan hingga kini.
- Ketika Tangan dan Kaki Berkata (Dinyanyikan oleh Chrisye, musik oleh Erwin Gutawa). Sebuah mahakarya hasil kolaborasi yang menyentuh hati banyak orang.
Selain menjadi penyair, Taufiq Ismail juga menerjemahkan dan menulis esai. Yaitu Membangun Pikiran Agama dalam Islam (Muhammad Iqbal, terjemahan Ali Audah). Lalu Dari Presiden Soekarno hingga Presiden Soeharto (1998): kompilasi prosa dan kolomnya yang mendokumentasikan berbagai peristiwa politik penting.
Sebagai penyair terkemuka Indonesia, Taufik Ismail telah banyak menerima penghargaan dalam dan luar negeri. Ia pernah menerima berbagai penghargaan, termasuk Anugerah Seni dari Pemerintah (1970), Penghargaan Kunjungan Seni dari Pemerintah Australia (1977), Penghargaan Penulisan Sastra dari Kerajaan Thailand (1994), dan Penghargaan Penulisan Sastra dari Pusat Bahasa.
Selain itu, Sunda787 ia telah menjadi penyair tamu di Universitas Iowa, Amerika Serikat, dua kali (1971–1972 dan 1991–1992), dan juga menjadi pengarang tamu di Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur (1993). Pada tahun 2003, Taufik Ismail diberikan penghargaan doktor honoris causa dari Universitas Negeri Yogyakarta.
Yalfiza
26 Agustus 2025 12:13:58
Kok pertanian tidak ada yaa??? kita nagari yang subur akan pertanian, kok tidak di input...