“Riwayat Hidup Haji Miskin: Dari Mekkah ke Ranah Minang”
Haji Miskin adalah seorang ulama yang berasal dari Minangkabau, dan lahir di Koto Tinggi, Pandai Sikek, Tanah Datar, Sumatera Barat. Beliau yang lahir pada tahun 1780-an ini hidup pada abad ke-18 hingga awal abad ke-19. Haji Miskin diketahui memiliki dua saudara lainnya yaitu laki-laki bernama Datuak Tumangguang dan perempuan, tetapi tidak diketahui namanya.
Perjalanan hidup Haji Miskin sampai dengan pemberontakan Perang Paderi
Haji Miskin mulanya pergi belajar ke Koto Laweh bernama Surau Tuo, lalu berlanjut ke Paninjauan yang bernama Surau Kapeh-kapeh. Sebelum ke Kamang, beliau pergi ke Makkah dengan menempuh perjalanan selama berbulan-bulan dengan bermodalkan sampan dan membawa tikar, karena itulah beliau diberi nama panggilan Haji Miskin.
Selama bertahun-tahun di Makkah, selama masa studinya di Timur Tengah, Haji Miskin bahkan sempat menjadi tentara dalam kekuasaan Turki di Mesir, bahkan pernah terlibat dalam perlawanan melawan pasukan Napoleon di Mesir. Hal itulah yang menambah pengalamannya juga di bidang militer, memperkuat kedudukannya sebagai pemimpin dan figur pembaru masyarakat. Sepulang dari Makkah, beliau pergi ke Nagari Kamang dan bertemu dengan Tuanku Nan Renceh, lalu mereka membuat mufakat dan persatuan guna mengajarkan dan menyebarkan ajaran agama islam. Maka, terbentuklah persatuan yang bernama Kaum Paderi yang dijalankan oleh tokoh-tokoh penting yaitu Tuanku Nan Renceh, Haji Miskin, Tuanku Sumaniak, dan Haji Piobang. Persatuan ini membentuk gerakan yang bertujuan untuk pembersihan akidah.
Haji Miskin juga dikenal sebagai salah satu tokoh sentral dalam Gerakan Padri, sebuah gerakan pemurnian Islam di Minangkabau yang tumbuh kuat pada awal abad ke-19. Bersama dua ulama lainnya yaitu, Haji Piobang dari Luhak Limo Puluah Koto dan Haji Sumanik dari Luhak Tanah Datar, Haji Miskin pulang dari menuntut ilmu di Makkah membawa gagasan pembaruan agama berdasarkan ajaran Islam yang murni, terinspirasi dari gerakan Wahabi di Timur Tengah.
Pada tahun 1803, Haji Miskin kembali ke Minangkabau dan awalnya menetap di Batu Taba, tetapi kemudian pindah ke Nagari Pandai Sikek. Di sinilah ia aktif berdakwah mengajak masyarakat untuk meninggalkan praktik-praktik yang bertentangan dengan syariat Islam seperti adu ayam atau biasa disebut manyabuang, minum tuak, dan penggunaan obat-obatan terlarang. Ajarannya yang radikal tidak diterima luas, sehingga Haji Miskin dan Datuk Batuah yaitu seorang penghulu setempat, sampai membakar pasar Pandai Sikek khususnya yang berada di jorong baruah sebagai simbol penolakan praktik-praktik yang dianggap bertentangan dengan Islam.
Setelah melarikan diri ke Kota Lawas dan mendapat perlindungan, Haji Miskin pindah ke Kamang, di mana ia bersekutu dengan Tuanku Nan Renceh untuk menyebarkan gagasan pemurnian Islam secara lebih luas. Mereka membentuk sebuah kelompok yang dikenal dengan "Harimau Nan Salapan" (Harimau Yang Delapan) yang giat menyebarkan ajaran tersebut. Dalam perjuangannya, Haji Miskin juga menerapkan syariat Islam dalam kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat Minangkabau, yang mana melengkapi hukum adat yang ada.
Pada saat terjadi Gerakan Paderi, yang mana terjadi perang antara kaum adat dan kaum agama, ketegangan antara kedua kelompok ini memuncak ketika berbagai upaya perdamaian dan perundingan gagal mencapai kesepakatan, sehingga pecahlah Perang Padri yang berlangsung sejak awal abad ke-19, sekitar tahun 1803 hingga 1837. Konflik awalnya adalah perang saudara, namun kemudian Belanda ikut campur tangan dengan membantu Kaum Adat melawan Kaum Padri dengan alasan politik kolonial.
Akibat peristiwa itulah banyaknya terbunuh kaum adat, disaat yang bersamaan pula Rajo Pagaruyuang yang bernama Muniang Syah terbunuh karena mulanya ia melarikan diri ke Padang dengan maksud menemui bangsa Belanda dengan tujuan meminta tolong untuk memerangi kaum Paderi. Tetapi, bangsa Belanda memanfaatkan situasi tersebut untuk ikut menjajah.
Dalam peperangan itulah terbunuhnya Haji Miskin tepatnya di Bukit Sirandang sekitar tahun 1830, dan makamnya kini berada di Jl. Pandai Sikek No.12, Koto Baru, Tanah Datar, Sumatera Barat.

Haji Miskin dikenang sebagai tokoh pelopor pembaruan Islam yang meninggalkan jejak kuat dalam sejarah Minangkabau dan Nusantara, khususnya dalam memperjuangkan penerapan ajaran Islam yang murni sesuai dengan pemahaman Wahabi yang diperolehnya dari Timur Tengah.
Dengan kisah dan berita yang ada, menurut bapak Drs. H. Nasrul sebagai Datuk Tumangguang yang sekarang, “Semua peninggalan dari Haji Miskin seperti baju, barang, serta buku-bukunya tidak ada yang tersisa karena terbakar, termasuk rumah beliau sendiri itu sudah roboh” tutur Datuk Tumangguang. Namun, beberapa bangunan disini seperti Masjid dan Pondok Pesantren diberi nama dengan Haji Miskin. Menurut tutur Datuk Tumangguang, tempat berdiri pondok pesantren ini merupakan tanah milik Haji Miskin.


Yalfiza
26 Agustus 2025 12:13:58
Kok pertanian tidak ada yaa??? kita nagari yang subur akan pertanian, kok tidak di input...